Rabu, 20 Oktober 2010

CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB

A. Pendahuluan
    Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007, dijelaskan  bahwa kurikulum Bahasa Arab merupakan kurikulum dasar awal, dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Dalam kelas bahasa Arab, siswa didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan membaca, menulis, mengungkapkan pendapat, membandingkan dan mendiskusikan suatu teks.  Siswa didorong untuk mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan global.
    Dengan tujuan dan harapan yang sedemikian besar terhadap hasil pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah, maka diperlukan usaha yang sangat keras dari berbagai pihak untuk dapat mencapainya. Guru, sebagai ujung tombak pelaksana di kelas, senantiasa dituntut untuk mencari dan menerapkan berbagai inovasi dalam pembelajaran bahasa Arab, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
    Pendekatan, metode dan teknik pengajaran dan pembelajaran bahasa asing dari waktu ke waktu mengalami perkembangan sesuai dengan berkembangnya pemikiran para ahli pengajaran bahasa. Lebih dari itu, hasil-hasil penelitian dalam bidang pengajaran bahasa itu sendiri memberikan kontribusi kepada lahirnya pendekatan dan metode baru dalam pengajaran bahasa.
    Salah satu topik hangat dalam dunia pendidikan beberapa saat terakhir  ini adalah isu pembelajaran kontekstual, atau juga dikenal dengan istilah CTL (Contextual Teaching-Learning). Istilah ini muncul dalam pendekatan pengajaran umum di dunia pendidikan. Padahal jauh sebelum ini, prinsip kontekstual telah ada pada pengajaran bahasa asing, yakni merupakan prinsip dasar dari pendekatan komunikatif. Menurut Fuad Efendy, CTL banyak memiliki kesamaan prinsip dan karakteristik dengan pendekatan komunikatif dalam  pembelajaran bahasa.
    Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional telah lama mengembangkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran secara umum.Hal ini sebagai upaya menjawab berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran, CTL dapat diterapkan dalam semua pelajaran, termasuk bahasa Arab.

B. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual
    Landasan munculnya pendekatan ini adalah filsafat konstruktivisme. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendiri. Pengetahuan adalah bukan hasil dari ‘pemberian’ orang lain, seperti guru, tetapi dari hasil dari mengkonstruksi yang dilakukan oleh setiap individu. Apabila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide, pengetahuannya kepada siswa, pentransferan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
    Konteks biasanya disamakan dengan lingkungan, yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui panca indera atau ruang yang kita gunakan setiap hari. Dengan demikian, pengajaran dan pembelajaran kontekstual merupakan sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasikan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
    Johnson mendefinisikan CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial dan budayanya.
    Lebih rinci, Johnson merumuskan 8 komponen perilaku siswa dalam proses belajar untuk mencapai tujuan dari pembelajaran kontekstual. 8 komponen tersebut adalah:
1.    Making meaningful connection (membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna), yaitu mendorong siswa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata.
2.    Doing significant work (melakukan pekerjaan yang berarti).
Siswa melakukan pekerjaan yang berarti; ada tujuan, ada manfaat yang diperoleh dan ada produk / hasil nyata.
3.    Self-regulated Learning (melakukan pembelajaran yang diatur sendiri).
Siswa dapat mengatur dirinya dalam belajar, disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat dalam mengembangkan potensi dirinya.
4.    Collaborating (melakukan kerjasama).
Siswa melakukan kerjasama dalam belajar, baik dengan sesama siswa lainnya maupun dengan guru, karyawan dan orang lain.
5.    Critical and Creative Thinking (berfikir kritis dan kreatif).
Siswa didorong untuk berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisa, memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan menyusun argumen berdasarkan fakta.
6.    Nurturing the individual (memelihara atau mengasuh pribadi siswa).
Pembelajaran harus dapat membentuk pribadi siswa dengan baik, sekaligus memberikan dorongan (motivasi) untuk belajar saling memahami dan menghormati sesama teman.
7.    Reaching high standard (mencapai standar yang tinggi).
Siswa didorong untuk tekun dan rajin belajar agar mencapai standar yang lebih baik.
8.    Using authentic assesment (menggunakan penilaian autentik)
        Penilaian terhadap siswa tidak hanya dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran, akan tetapi penilaian juga harus berlangsung dalam proses pembelajaran. Penilaian hendaknya dilakukan untuk menilai apa yang seharusnya dinilai.
       Dari uraian diatas, nampak bahwa pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan ‘situasi dunia nyata’ ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi siswa.
Nurhadi mengatakan,  bahwa pembelajaran kontekstual melatih siswa untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata. Disamping itu, pendekatan ini menjanjikan mampu menghidupkan suasana kelas yang bergairah dalam belajar bahkan siswa kecanduan belajar. Melalui pendekatan kontekstual siswa akan dibawa tidak hanya masuk ke kawasan pengetahuan tetapi juga pada penerapan pengetahuan yang didapatkannya.

C. Implementasi CTL dalam Pembelajaran Bahasa Arab
    Pembahasan prinsip kontekstual untuk pembelajaran bahasa sangat erat kaitannya dengan pragmatik bahasa. Pragmatik merupakan studi tentang kemampuan pemakai bahasa untuk menyesuaikan kalimat-kalimat yang digunakan dengan konteksnya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa asing menurut prinsip ini diajarkan dalam ungkapan-ungkapan kalimat yang disesuaikan dengan kebutuhan konteks situasi.
    Pembelajaran bahasa yang dilakukan menurut konteks akan membantu siswa mengaplikasikan kompetensi komunikatif yang dimilikinya dalam kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seseorang belajar bahasa asing, maka seyogyanya bahasa yang dipelajari tersebut dapat dipraktekkan dalam kehidupan nyata, yakni mereka dapat menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi.
Pembelajaran bahasa Arab berdasarkan prinsip kontekstual ini menuntut agar materi atau bahan ajar didukung oleh penggunaan bahan ajar yang autentik; meliputi koran, majalah, program radio dan televisi, website dan sebagainya. Sementara itu, dalam perspektif siswa penggunaan bahan ajar yang autentik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
    Satu hal yang perlu pula dipahami, bahwa makna kontekstual sebagaimana dijelaskan oleh Gudykunts and Kim (1992), bisa berupa konteks eksternal; yang meliputi lokasi dimana komunikasi terjadi dan diliputi makna sosial, dan konteks internal; yang meliputi makna kultural yang dimiliki. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna kontekstual dalam pembelajaran bahasa asing yakni konteks budaya bahasa target dan konteks budaya siswa itu sendiri.
    Untuk dapat mengimplementasikan prinsip pendekatan kontekstual dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas, maka perlu disusun perencanaan program pembelajaran; mulai dari silabus, RPP (Rencana Program Pembelajaran), hingga proses evaluasi dengan menerapkan prinsip authentic assessment. Hal-hal tersebut akan penulis uraikan dalam pembahasan berikut:

a.    Pengembangan Silabus dan RPP Berbasis Kontekstual
       Silabus merupakan uraian program yang mencantumkan mata pelajaran, tingkat satuan pendidikan, semester, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, indikator, strategi pembelajaran, alokasi waktu, sumber dan media, serta sistem penilaian. Dengan pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah, membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan demokratisasi dalam penyelenggaraan pembelajaran. Dengan demikian, penyusunan silabus menjadi kewenangan daerah atau sekolah.
      RPP atau Rencana Program Pembelajaran adalah rencana atau program yang disusun oleh guru untuk satu atau dua kali pertemuan untuk mencapai target satu kompetensi dasar. RPP diturunkan dari silabus yang telah disusun dan bersifat aplikatif di kelas. RPP berisi gambaran tentang kompetensi dasar yang akan dicapai, indikator,  materi pokok, tahapan skenario pembelajaran dan penilaian.
     Secara umum, sebagaimana dikatakan oleh Nurhadi, tidak ada perbedaan mendasar antara silabus ataupun RPP dalam pembelajaran konvensional dengan Silabus atau RPP yang menggunakan pendekatan kontekstual. Hanya saja program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai, sedangkan pada program pembelajaran kontekstual lebih menekankan kepada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam menyusun silabus ataupun RPP adalah sebagai berikut:
   Nyatakan kegiatan utama pembelajaran, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok dan indikator. Misalnya dalam buku ajar Bahasa Arab untuk Madrasah Aliyah Program Bahasa terdapat materi المناطق السياحية  :
Kompetensi Dasar: Membaca, memahami, berbicara dan menulis dengan
                                tema Wisata.
Materi Pokok         : المناطق السياحية 
Indikator              : Mampu berbicara tentang objek-objek wisata di
               tanah air dengan menggunakan  bahasa Arab.
       
      Maka kegiatan utama pembelajarannya adalah: latihan mengungkapkan objek-objek wisata yang ada di masing-masing daerah siswa dalam bahasa Arab dengan menggunakan mufrodat baru dari materi pokok المناطق السياحية  .
    Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
    Rincilah media untuk mendukung kegiatan tersebut
    Buatlah skenario kegiatan siswa tahap demi tahap
    Nyatakan authentic assessment.
Berikut ini penulis cantumkan contoh RPP bahasa Arab Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berbasis CTL.
Contoh:
RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)

     Satuan Pendidikan     : Madrasah Aliyah
     Topik/Kegiatan         : Mendeskripsikan objek wisata di tanah air.
     Kompetensi Dasar     : Menulis paragraf deskripsi
     Mata Pelajaran           : Bahasa Arab
     Kelas/Semester          : XII/2
     Waktu                        : 3 x 45 menit

A.    Kompetensi Dasar
Menulis paragraf deskripsi
B.    Indikator
Mampu menulis paragraf deskripsi
C.    Tujuan
Melatih siswa mendeskripsikan kondisi/keindahan salah satu objek wisata di tanah air yang dia ketahui dalam bahasa Arab kemudian mengungkapkannya dalam kalimat deskritif.
D.    Media
•    Tayangan / video tentang Kebun Raya Bogor, Puncak, dan Bali yang telah dipersiapkan oleh guru sebelumnya.
•    Menggunakan material authentic yang diambil dari majalah ألو إندونيسيا  edisi ke-71, halaman 4; disana terdapat sebuat artikel wisata dengan judul               بحيرة ليدو: روعة الطبيعية بين ثلاث جبال.                                                                  
                                   
E.    Skenario Pembelajaran
Pertemuan I
1.    Guru memperlihatkan sebuah artikel berbahasa Arab yang memuat keindahan objek wisata Danau Lido di Sukabumi Jawa Barat. Guru memberikan contoh deskriptif  dalam bahasa Arab yang menggambarkan secara rinci objek wisata Danau Lido.
2.    Guru menayangkan video yang berisi gambar beberapa objek wisata, diantaranya Kebun Raya Bogor, Puncak, dan Bali.
3.    Guru memberikan contoh/mendemonstrasikan bagaimana mendeskripsikan keindahan objek wisata sesuai dengan tayangan yang sedang diputar dengan menggunakan bahasa Arab.
4.    Siswa mempelajari qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور   yang terdapat dalam bahan ajar.
5.    Siswa melatih kemampuan membaca  qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور   dengan lafal yang tepat dan intonasi yang benar.
6.    Siswa mempelajari terjemah qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور   .
7.    Guru menguji kemampuan membaca dan menerjemahkan masing-masing siswa.
8.    Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas untuk memilih salah satu objek wisata yang ada di Indonesia. Masing-masing kelompok diminta untuk mencari foto-foto tentang objek wisata yang dipilih dari internet, dan semua anggota kelompok harus mendeskripsikan objek wisata sesuai dengan foto-foto yang ditayangkan dengan menggunakan bahasa Arab. Guru memberikan waktu satu minggu untuk semua kelompok menyelesaikan tugas tersebut.
Pertemuan II
1.    Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan mempersiapkan media yang akan digunakan dalam presentasi kelompok
2.    Masing-masing kelompok mendapat giliran untuk mempresentasikan tugas mereka, yaitu mendeskripsikan objek wisata sesuai dengan  foto-foto yang ditayangkan dengan menggunakan bahasa Arab.
3.    Setelah semua kelompok selesai melakukan presentasi, guru memberikan komentar, kritik dan saran untuk beberapa hal yang diperlukan.
4.    Sebagai penutup, guru secara terbuka memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menyampaikan kesan-kesan yang mereka rasakan melalui pembelajaran ini.
F.    Penilaian
Data kemajuan belajar diperoleh dari:
A.    Partisipasi setiap siswa dalam kerja kelompok
B.    Cara siswa menyampaikan ulasan deskriprif secara lisan
C.    Paragraf deskriptif yang ditulis siswa.


b.    Pelaksanaan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Hasil penelitian Nuril Mu’jizah di 5 Madrasah Aliyah di Kabupaten pasuruan menunjukkan bahwa konsep pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Arab telah lama diterapkan di madrasah-madrasah tersebut. Kontekstual yang dimaksud dipandang dari dua sudut, yaitu: tema dan lingkungan. Contoh kontekstualisasi yang telah dilakukan antara lain dengan membahas tema “المظاهرة” ketika di Indonesia sedang marak terjadi aksi demonstrasi, membahas ”فيضان الطمي الساخن” ketika terjadi tragedy lumpur panas Lapindo, dan masih banyak lagi berita-berita dari berbagai media yang bisa diambil dan diangkat sebagai tema dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas.
Kontekstualisasi lingkungan dilakukan sebagai upaya untuk mengajarkan bahasa Arab berdasarkan lingkungan sosial siswa. Pembelajaran kontekstual dalam hal ini terjadi karena siswa mengalami langsung apa yang sedang diajarkan. Dalam hal ini pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan dengan tema-tema yang paling dekat dengan lingkungan siswa. Misalnya, di awal proses pembelajaran bahasa Arab, guru mengajarkan ungkapan-ungkapan yang dibutuhkan oleh siswa untuk berkomunikasi dalam lingkungan sekolah. Kegiatan lain yang dapat dilakukan, misalnya pada tahap appersepsi di kelas, guru berbincang dengan beberapa orang siswa dalam bahasa Arab, menanyakan kabar mereka, tempat tinggal,kegiatan di rumah sebelum berangkat ke sekolah dan lain sebagainya. Cara belajar demikian memberikan efek positif bagi banyak siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran secara kontekstual dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.

c.    Authentic Assesment
Authentic Assesment atau penilaian yang sebenarnya merupakan prosedur penilaian yang diambil dari berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Authentic Assesment menunjukkan bahwa pembelajaran telah terjadi, menyatu ke dalam proses belajar mengajar dan memberikan kesempatan serta arahan kepada siswa untuk maju. Authentic Assesment sekaligus dipergunakan sebagai alat control untuk melihat kemajuan siswa dan feedback bagi praktek pengajaran. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assesmen tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan kepada sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik:
•    Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
•    Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
•    Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
•    Berkesinambungan
•    Terintegrasi
•    Dapat digunakan sebagai feed back
Dalam CTL, hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi  siswa, antara lain:
1.    Proyek/kegiatan dan laporannya
2.    Kuis
3.    Karya siswa (dapat pula berupa karya tulis)
4.    Presentasi atau penampilan siswa
5.    Demonstrasi
6.    Hasil tes tulis
Dengan demikian, penilaian terhadap kemampuan siswa dalam berbahasa Arab harus dilihat dari kegiatan nyata pada saat siswa menggunakan bahasa Arab tersebut, bukan dari hasil ujian bahasa Arab semata. Dengan penilaian yang autentik ini dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar.

d.    Penutup
Berbagai permasalahan pembelajaran Bahasa Arab yang muncul di madrasah/sekolah, utamanya berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi pendekatan pembelajaran, seringkali dihadapi oleh para guru bahasa Arab. Untuk menjawab persoalan tersebut, perlu adanya inovasi-inovasi baru dalam pendekatan pembelajaran bahasa Arab ini.
Pembelajaran berbasis kontekstual dapat dijadikan salah satu jawaban dari persoalan tersebut yang perlu diketahui, difahami dan diaplikasikan oleh guru dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pembelajarn kontekstual yang bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang dapat diterapkan dari satu konteks ke konteks lainnya ini memiliki beberapa komponen; (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) membuat pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yangd iatur sendiri, (4) melakukan kerjasama, (5) mengembangkan pola berpikir kritis dan kreatif, (6) memelihara atau mengasuh pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunakan penilaian autentik.
Mendidik bukan hanya mengajar, oleh karena itu guru seyogyanya tidak berhenti belajar, meningkatkan pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki, serta tidak berhenti mencari dan mencoba berbagai inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas, agar dapat melaksanakan dengan baik tugas yang tengah diemban.





---------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar