Rabu, 27 Oktober 2010

Belajar dari Seorang Abdi Merapi

Dalam suatu obrolan, terdengar celetukan yang disertai tawa, "Eh, Mbah Marijan udah meninggal lho. Ayo kita ke Yogya, melayat Mbah Marijan....".
Celetukan itu memang nampak biasa, namun menjadi terdengar miris karena disertai gelak tawa. Entah tawa untuk apa. Yang jelas tawa itu terasa ganjil untuk sebuah musibah yang menimpa seseorang. Siapapun itu; termasuk seorang Mbah Maridjan....

Mbah Maridjan, sosok yang dikenal sebagai juru kunci merapi itu diyakini telah tewas di dalam rumahnya yang hanya berjarak 4km dari gunung Merapi itu. Saat dievakuasi, jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud dan seluruh tubuh yang hangus terbakar. Subhanallah....

Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok sederhana berusia 83 tahun itu. Tentang kesetiaan, tentang  kepatuhan pada janji,  dan pengabdian hingga akhir hayat pada tugas yang diemban. Tugas sebagai juru kunci Gunung Merapi yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sejak tahun 1982 itu benar-benar dilaksanakan dengan kesungguhan hati.

Ya, pengabdian dengan kesungguhan hati pada tugas adalah hal yang layak dan patut dicontoh oleh siapapun dan profesi apapun; termasuk profesi pendidik. Profesi dengan ekspektasi penuh kemuliaan di mata masyarakat, tentu sudah sangat seharusnya jika dilakukan dengan penuh pengabdian. Mengabdi tidak hanya dengan niat hanya sekedar menjalankan kewajiban, tetapi niat dari hati untuk mampu 'memberi' sesuatu yang terbaik yang mampu dilakukan secara maksimal.
Semoga......

-------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar