Keterbatasan bahan ajar yang hanya terpaku pada buku paket yang ada nampaknya masih menjadi kendala untuk berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif. Bahkan Fuad Effendy –salah seorang dosen di Universitas Negeri Malang yang telah memiliki banyak pengalaman dalam dunia pengajaran bahasa Arab- dengan tegas menjelaskan bahwa proses pembelajaran bahasa Arab di kelas masih mengidap banyak kekurangan, antara lain terbatasnya materi dan media, termasuk buku teks, rendahnya minat baca pembelajar, serta buruknya naskah teks.
Buku paket yang dijadikan sebagai satu-satunya bahan ajar berdampak pada pelaksanaan metode pembelajaran yang cenderung monoton dan tidak variatif. Kendala ini tentu dapat diimbangi dengan usaha guru untuk memanfaatkan sumber-sumber lain sebagai bahan ajar di kelas. Apalagi, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) memberi keluasan kesempatan kepada guru untuk menyusun bahan ajar sesuai dengan kondisi yang di hadapi di sekolah masing-masing. KTSP juga tidak menetapkan materi-materi baku yang harus diajarkan di dalam kelas, melainkan hanya menetapkan Standar Kompetensi Lulusan sebagai acuan yang harus digunakan guru dalam menetapkan materi. Dengan pemberlakuan UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah, membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan demokratisasi dalam penyelenggaraan pembelajaran, termasuk penyusunan bahan ajar.
Sebagai salah satu contoh keterbatasan buku paket sebagaimana digambarkan sebelumnya adalah keterbatasan buku paket untuk mata pelajaran bahasa Arab sebagai bahasa Asing pilihan di Jurusan Bahasa Madrasah Aliyah/SMA. Buku paket yang ada adalah buku yang diterbitkan tahun 1999, yaitu Buku Bahasa Arab untuk Program Bahasa Madrasah Aliyah. Selain buku tersebut, Departemen Agama tidak menerbitkan buku paket baru yang sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan yang tercantum dalam KTSP 2007. Hal ini berarti guru sendiri yang harus merumuskan bahan ajar yang sesuai dengan acuan KTSP 2007 tersebut.
Sumber-sumber berbahasa Arab yang dapat digunakan sebagai bahan ajar mata pelajaran bahasa Arab telah banyak disebarkan dan dengan mudah dapat diakses. Beberapa diantaranya bahkan dilengkapi dengan media pendukung untuk melatih kemampuan menyimak (istima’ ), seperti al-Arabiyyah li al-Nasyi’in, al-Arabiyyah Bayna Yadayk, dan Durus al-Lughah al-Arabiyyah.
Hampir semua tema yang ditetapkan dalam kurikulum terdapat dalam buku-buku tersebut. Tema Identitas Diri, Sekolah, Keluarga, dan Kehidupan Sehari-hari, terdapat dalam al-Arabiyyah li al-Nasyi’in jilid 1 dan 2. Serta untuk tema Hobi, Wisata, Layanan Umum dan Profesi, bisa diambil dari al-Arabiyyah Bayna Yadayk jilid 1.
Pilihan sumber-sumber belajar tersebut diatas dapat menjadi salah satu alternatif bahan belajar yang menarik, karena dilengkapi dengan kaset yang diisi oleh suara native speaker. Hal ini tentu saja dapat membantu pembelajar agar terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan bahasa Arab dari penutur asli. Materi al-Arabiyyah Bayna Yadayk tersebut dapat dengan mudah diakses.
Materi yang dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung yang menarik di dalam buku tersebut diharapkan dapat menimbulkan minat pembelajar untuk membaca dan memahaminya. Disamping itu, buku yang dilengkapi dengan kaset yang memuat contoh-contoh pengucapan semua ungkapan yang terdapat dalam materi tentunya lebih tepat digunakan dibanding jika contoh-contoh ungkapan tersebut hanya disemonstrasikan oleh guru. Para pembelajar dapat terbiasa menyimak bagaimana intonasi dan gaya berbicara orang Arab secara langsung.
-------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar