Cakrawala Bahasa Arab
Ini adalah tempat untuk berbagi cerita tentang belajar dan mengajar bahasa Arab. Semoga ada banyak manfaat bisa dipetik. Ameen.....
Jumat, 12 November 2010
Kamis, 28 Oktober 2010
Al-Al'ab Al-Lughowiyyah ( 2 )
صَيْدُ الكَنز
(Berburu Harta Karun)
(Berburu Harta Karun)
Permainan ini menggunakan teknik yang digunakan dalam metode total physical response, yaitu para siswa bergerak sesuai instruksi yang diberikan. Teknik tersebut dapat dilakukan sebagai berikut:
- Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, masing-masing berjumlah 3-4 orang.
- Kepada masing-masing kelompok, guru mengabarkan rencana pembelajaran hari itu bahwa mereka harus berlomba mencari 'harta karun' yang berada di suatu tempat. Untuk mendapatkannya, masing-masing kelompok diberi peta instruksi. Kelompok yang terlebih dahulu menemukan harta karun tersebut adalah pemenangnya.
- Teknik ini dilaksanakan di luar kelas dengan menggunakan seluruh lingkungan sekolah.
- Peta instruksi tersebut dapat berupa perintah-perintah sebagai berikut:
- اِذْهَبوا إلى الملعب، فستجدون فيه لواء أحمر صغيرا تحت شجرة كبيرة.
- اكتبوا أسماءكم على ذلك اللواء
- خذوا اللواء معكم ثمّ اذهبوا إلى البركة وابحثوا عن ثلاث مطات حمراء حولها
- استخدموا تلك المطات على أيديكم اليمنى
- ثمّ اتّجهوا إلى اليمين وستنظرون عباد الشمس. واصلوا السير حتى يقابلكم ميدان
- فرّوا إلى عمود اللواء، ثمّ ارفعوا رؤوسكم وابحثوا فيه عن القرطاس الأخضر، فهناك خريطة تدلذ على مكان الكنز.
- مع النجاح!
- اكتبوا أسماءكم على ذلك اللواء
- خذوا اللواء معكم ثمّ اذهبوا إلى البركة وابحثوا عن ثلاث مطات حمراء حولها
- استخدموا تلك المطات على أيديكم اليمنى
- ثمّ اتّجهوا إلى اليمين وستنظرون عباد الشمس. واصلوا السير حتى يقابلكم ميدان
- فرّوا إلى عمود اللواء، ثمّ ارفعوا رؤوسكم وابحثوا فيه عن القرطاس الأخضر، فهناك خريطة تدلذ على مكان الكنز.
- مع النجاح!
Rabu, 27 Oktober 2010
Belajar dari Seorang Abdi Merapi
Dalam suatu obrolan, terdengar celetukan yang disertai tawa, "Eh, Mbah Marijan udah meninggal lho. Ayo kita ke Yogya, melayat Mbah Marijan....".
Celetukan itu memang nampak biasa, namun menjadi terdengar miris karena disertai gelak tawa. Entah tawa untuk apa. Yang jelas tawa itu terasa ganjil untuk sebuah musibah yang menimpa seseorang. Siapapun itu; termasuk seorang Mbah Maridjan....
Mbah Maridjan, sosok yang dikenal sebagai juru kunci merapi itu diyakini telah tewas di dalam rumahnya yang hanya berjarak 4km dari gunung Merapi itu. Saat dievakuasi, jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud dan seluruh tubuh yang hangus terbakar. Subhanallah....
Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok sederhana berusia 83 tahun itu. Tentang kesetiaan, tentang kepatuhan pada janji, dan pengabdian hingga akhir hayat pada tugas yang diemban. Tugas sebagai juru kunci Gunung Merapi yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sejak tahun 1982 itu benar-benar dilaksanakan dengan kesungguhan hati.
Ya, pengabdian dengan kesungguhan hati pada tugas adalah hal yang layak dan patut dicontoh oleh siapapun dan profesi apapun; termasuk profesi pendidik. Profesi dengan ekspektasi penuh kemuliaan di mata masyarakat, tentu sudah sangat seharusnya jika dilakukan dengan penuh pengabdian. Mengabdi tidak hanya dengan niat hanya sekedar menjalankan kewajiban, tetapi niat dari hati untuk mampu 'memberi' sesuatu yang terbaik yang mampu dilakukan secara maksimal.
Semoga......
-------
Celetukan itu memang nampak biasa, namun menjadi terdengar miris karena disertai gelak tawa. Entah tawa untuk apa. Yang jelas tawa itu terasa ganjil untuk sebuah musibah yang menimpa seseorang. Siapapun itu; termasuk seorang Mbah Maridjan....
Mbah Maridjan, sosok yang dikenal sebagai juru kunci merapi itu diyakini telah tewas di dalam rumahnya yang hanya berjarak 4km dari gunung Merapi itu. Saat dievakuasi, jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud dan seluruh tubuh yang hangus terbakar. Subhanallah....
Ada pelajaran berharga yang bisa kita petik dari sosok sederhana berusia 83 tahun itu. Tentang kesetiaan, tentang kepatuhan pada janji, dan pengabdian hingga akhir hayat pada tugas yang diemban. Tugas sebagai juru kunci Gunung Merapi yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sejak tahun 1982 itu benar-benar dilaksanakan dengan kesungguhan hati.
Ya, pengabdian dengan kesungguhan hati pada tugas adalah hal yang layak dan patut dicontoh oleh siapapun dan profesi apapun; termasuk profesi pendidik. Profesi dengan ekspektasi penuh kemuliaan di mata masyarakat, tentu sudah sangat seharusnya jika dilakukan dengan penuh pengabdian. Mengabdi tidak hanya dengan niat hanya sekedar menjalankan kewajiban, tetapi niat dari hati untuk mampu 'memberi' sesuatu yang terbaik yang mampu dilakukan secara maksimal.
Semoga......
-------
Rabu, 20 Oktober 2010
جَزَاء سِنِّمَار
أرَادَ أَحدُ المُلُوْكِ أَنْ يَبْنِيَ لِنَفْسِهِ قَصْرًا عَظِيْمًا، فَاسْتَدْعَى المُهَنْدِسْيْنَ جَمِيْعًا فِي مَمْلَكَتِهِ وَأَخْبَرَهُمْ بِمَا يُرِيْدُ. وَقَد اخْتَارَ مُهَنْدِسًا مَشْهُوْرًا، لِيَبْنِيَ ذلِكَ القَصْرَ، اسْمُهُ سِنِّمَار
أَخَذَ المُهَنْدِسُ سِنِّمَار يُفَكِّرُ طِوَالَ الوَقْتِ، وَبَعْدَ تَفْكِيْر طَوِيْلٍ وَضَعَ المُهَنْدِسُ خُطَّةً دَقِيْقَةً لِبِنَاء القَصْرِ، وَبَدَأَ المُهَنْدِسُ العَمَلَ فِي نَشَاطٍ. وَقَدْ تَمَّ بِنَاءُ القَصْر عَلَى شَاطِئ النَهْر، فَوْقَ جَبَلٍ. وَكَانَ الجَبَلُ فِي حَدِيْقَةٍ وَاسِعَةٍ، كَثِيْرَةِ الأشْجَار، مُخْتَلِفَةِ الأَزْهَار
بنَى المُهَنْدِسُ قَصْرًا عَظِيْمًا وَكَانَ النَّاسُ يَأتُوْنَ مِنَ البِلادِ البَعِيْدَةِ، يَقِفُوْنَ أَمَامَ القَصْر السَّاعَات الطويْلَةَ، يَسْتَمِعُوْنَ بِجَمَالِ هَنْدَسَتِهِ
أَعْجَبَ المَلِكُ بِالقَصْر إِعْجَابًا شَدِيْدًا، وَشَكَرَ المُهَنْدِسَ عَلَى عَمَلِهِ العَظِيْم، فَفَرحَ المُهَنْدِسُ وَأَخَذَ يُفَكِّرُ فِي الجَائِزَةِ الكَبِيْرَةِ الَّتِي سَيَحْصُلُ عَلَيْهَا مِنَ المَلِك
فِي أَحَدِ الأَيَّامِ اسْتَدْعَى المَلِكُ المُهَنْدِسَ، فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ فِي نَشَاطٍ. طَلََب المَلِكُ مِنَ المُهَنْدِسِ أَنْ يَتَجَوَّلَ مَعَهُ فِي جَوَانِبِ القَصْر وَأَنْ يُعَرّفَهُ بِغُرَفِهِ وَ صَالاتِهِ. طَافَ المَلِكُ وَالمُهَنْدِسُ بِجَمِيْعِ جَوَانِبَ القَصْر، ثُمَّ صَعِدَ إِلَى سَطَحِهِ، لَقَدْ شَاهَدَ المَلِكُ مِنَ السَّطَح مَنْظَرًا رَائِعًا، فَسَأَلَ المُهَنْدِسَ: هَلْ هُنَاكَ قَصْرٌ مِثْلُ هذَا؟! أَجَابَهُ المُهَنْدِسُ: كَلاَّ. ثُمَّ سأَلَهُ: هَلْ هُنَاكَ مُهَنْدِسٌ غَيْرُكَ، يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَبْنِيَ مِثْلَ هذَا القَصْر؟ أَجَابَ المُهَنْدِسُ: كَلاَّ
فَكَّرَ المَلِكُ سَرِيْعًا... إِذَا عَاشَ هذَا المُهَنْدِسُ فَسَيَبْنِيَ قُصُوْرًا أُخْرَى، أَجْمَلَ مِنْ هذَا القَصْر. طَلَبَ المَلِكُ مِنْ جُنُوْدِهِ اَنْ يُلْقُوْا بِالمُهَنْدِسِ مِنْ سَطحِ القَصْرِ. أَلْقَى الجُنُوْدُ بِالمُهَنْدِسِ مِنَ السَّطْحِ، فَانكَسَرَتْ عُنُقُهُ وَمَاتَ وَصَأرَ النَّاسُ يَضْربُوْنَ هذَا المَثَلَ جزَاء سِنِّمَار لِمَنْ يُقَدِّمُ خَيْرًا للنَّاسِ فَيَجْزُوْنَهُ شَرَّا
--------
Seorang yang berilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itu,
dialah yang dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini.
Ia bagai matahari yang memberi cahaya orang lain
sedangkan dia sendiri pun bercahaya.
Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain,
sedangkan dia sendiri pun harum
dialah yang dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini.
Ia bagai matahari yang memberi cahaya orang lain
sedangkan dia sendiri pun bercahaya.
Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain,
sedangkan dia sendiri pun harum
(Al-Ghazali)
Al-Al'ab Al-Lughowiyyah ( 1 )
Permainan bahasa merupakan cara baru yang banyak digunakan dalam program-program pembelajaran bahasa. Manfaat dari permainan bahasa ini telah banyak dirasakan oleh guru-guru bahasa asing di berbagai negara. Kegiatan permainan yang dimaksud tentu bukan asal main-main sembarangan, melainkan bermain yang memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa.
Istilah “permainan” dalam pembelajaran bahasa ini digunakan agar dapat memberikan sudut pandang yang berbeda dalam kegiatan-kegiatan di kelas, dan memberikan kesan kepada guru dan siswa tentang adanya cara belajar yang menyenangkan dan senantiasa ditunggu-tungu untuk melatih dan mengembangkan kemampuan semua unsur-unsur kebahasaan.
Nashif Musthafa Abdul Aziz menjelaskan bahwa proses pembelajaran hendaklah dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan. Permainan dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar para siswa, apalagi biasanya keinginan untuk berlomba dan berkompetisi diantara para siswa sangat tinggi.
Proses belajar memang tidak selalu membutuhkan permainan, dan permainan sendiri tidak selalu mempercepat pencapaian hasil belajar. Akan tetapi, permainan yang dimanfaatkan dengan tepat dapat menambah variasi, semangat dan minat pada sebagian program belajar. Seperti halnya teknik belajar, permainan bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan sekedar sarana untuk mencapai tujuan, yaitu meningkatkan pembelajaran.
Terkadang permainan bisa menarik, menyenangkan dan sangat memikat, akan tetapi tidak memberikan hasil yang berarti dalam pembelajaran. Dengan demikian, guru harus mampu memanfaatkan teknik permainan ini dengan strategi yang tepat sehingga efektif untuk mencapai tujuan belajar yang diharapkan.
Berikut ini adalah beberapa contoh bentuk permainan yang dapat diterapkan untuk menunjang pengembangan kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa yang dimaksud adalah kemahiran berbahasa yang telah lazim diketahui, yaitu pengembangan kemahiran menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Didalam pelaksanaannya di kelas, guru perlu mempertimbangkan jumlah siswa dalam kelas, usia siswa, tingkat kemampuan, topik pembelajaran, perhatian siswa, ketersediaan waktu, ketersediaan peralatan, serta kegaduhan yang mungkin ditimbulkan selama permainan berlangsung.
مَا هذا و مَا ذلك؟
Prosedur:
• Guru menyiapkan beberapa kalimat deskriptif tentang beberapa objek yang harus ditebak oleh siswa. Objek tersebut dapat berupa binatang, tanaman, makanan, nama negara, furniture, ruangan, dan sebagainya. Deskripsi kalimat terdiri atas 4 kalimat, mulai dari yang umum hingga yang lebih spesifik.
• Guru membagi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diminta untuk menyebutkan objek yang dimaksud secepat mungkin.
• Kelompok yang berhasil menebak diberi skor. Skor 4 untuk kalimat pertama, skor 3 untuk kalimat kedua, skor 2 untuk kalimat ketiga, dan skor 1 untuk kalimat keempat. Kelompok yang berhasil mengumpulkan skor terbanyak adalah pemenangnya.
Contoh :
- هذَا مَكَانٌ
- هُنَاك نتب كثيرة
- الطالب ذهب إلى هناك
- الطالب يقرأ ويدرس فيها
- هو رجل
- لَهُ مِهْنَة كريمة
- هو يعمل في المستشفى
- هو يعالج المرضى
----------
...... to be continued
CONTEXTUAL TEACHING LEARNING DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
A. Pendahuluan
Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007, dijelaskan bahwa kurikulum Bahasa Arab merupakan kurikulum dasar awal, dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Dalam kelas bahasa Arab, siswa didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan membaca, menulis, mengungkapkan pendapat, membandingkan dan mendiskusikan suatu teks. Siswa didorong untuk mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan global.
Dengan tujuan dan harapan yang sedemikian besar terhadap hasil pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah, maka diperlukan usaha yang sangat keras dari berbagai pihak untuk dapat mencapainya. Guru, sebagai ujung tombak pelaksana di kelas, senantiasa dituntut untuk mencari dan menerapkan berbagai inovasi dalam pembelajaran bahasa Arab, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Pendekatan, metode dan teknik pengajaran dan pembelajaran bahasa asing dari waktu ke waktu mengalami perkembangan sesuai dengan berkembangnya pemikiran para ahli pengajaran bahasa. Lebih dari itu, hasil-hasil penelitian dalam bidang pengajaran bahasa itu sendiri memberikan kontribusi kepada lahirnya pendekatan dan metode baru dalam pengajaran bahasa.
Salah satu topik hangat dalam dunia pendidikan beberapa saat terakhir ini adalah isu pembelajaran kontekstual, atau juga dikenal dengan istilah CTL (Contextual Teaching-Learning). Istilah ini muncul dalam pendekatan pengajaran umum di dunia pendidikan. Padahal jauh sebelum ini, prinsip kontekstual telah ada pada pengajaran bahasa asing, yakni merupakan prinsip dasar dari pendekatan komunikatif. Menurut Fuad Efendy, CTL banyak memiliki kesamaan prinsip dan karakteristik dengan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional telah lama mengembangkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran secara umum.Hal ini sebagai upaya menjawab berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran, CTL dapat diterapkan dalam semua pelajaran, termasuk bahasa Arab.
B. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual
Landasan munculnya pendekatan ini adalah filsafat konstruktivisme. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendiri. Pengetahuan adalah bukan hasil dari ‘pemberian’ orang lain, seperti guru, tetapi dari hasil dari mengkonstruksi yang dilakukan oleh setiap individu. Apabila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide, pengetahuannya kepada siswa, pentransferan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
Konteks biasanya disamakan dengan lingkungan, yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui panca indera atau ruang yang kita gunakan setiap hari. Dengan demikian, pengajaran dan pembelajaran kontekstual merupakan sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasikan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
Johnson mendefinisikan CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial dan budayanya.
Lebih rinci, Johnson merumuskan 8 komponen perilaku siswa dalam proses belajar untuk mencapai tujuan dari pembelajaran kontekstual. 8 komponen tersebut adalah:
1. Making meaningful connection (membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna), yaitu mendorong siswa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata.
2. Doing significant work (melakukan pekerjaan yang berarti).
Siswa melakukan pekerjaan yang berarti; ada tujuan, ada manfaat yang diperoleh dan ada produk / hasil nyata.
3. Self-regulated Learning (melakukan pembelajaran yang diatur sendiri).
Siswa dapat mengatur dirinya dalam belajar, disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat dalam mengembangkan potensi dirinya.
4. Collaborating (melakukan kerjasama).
Siswa melakukan kerjasama dalam belajar, baik dengan sesama siswa lainnya maupun dengan guru, karyawan dan orang lain.
5. Critical and Creative Thinking (berfikir kritis dan kreatif).
Siswa didorong untuk berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisa, memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan menyusun argumen berdasarkan fakta.
6. Nurturing the individual (memelihara atau mengasuh pribadi siswa).
Pembelajaran harus dapat membentuk pribadi siswa dengan baik, sekaligus memberikan dorongan (motivasi) untuk belajar saling memahami dan menghormati sesama teman.
7. Reaching high standard (mencapai standar yang tinggi).
Siswa didorong untuk tekun dan rajin belajar agar mencapai standar yang lebih baik.
8. Using authentic assesment (menggunakan penilaian autentik)
Penilaian terhadap siswa tidak hanya dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran, akan tetapi penilaian juga harus berlangsung dalam proses pembelajaran. Penilaian hendaknya dilakukan untuk menilai apa yang seharusnya dinilai.
Dari uraian diatas, nampak bahwa pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan ‘situasi dunia nyata’ ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi siswa.
Nurhadi mengatakan, bahwa pembelajaran kontekstual melatih siswa untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata. Disamping itu, pendekatan ini menjanjikan mampu menghidupkan suasana kelas yang bergairah dalam belajar bahkan siswa kecanduan belajar. Melalui pendekatan kontekstual siswa akan dibawa tidak hanya masuk ke kawasan pengetahuan tetapi juga pada penerapan pengetahuan yang didapatkannya.
C. Implementasi CTL dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Pembahasan prinsip kontekstual untuk pembelajaran bahasa sangat erat kaitannya dengan pragmatik bahasa. Pragmatik merupakan studi tentang kemampuan pemakai bahasa untuk menyesuaikan kalimat-kalimat yang digunakan dengan konteksnya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa asing menurut prinsip ini diajarkan dalam ungkapan-ungkapan kalimat yang disesuaikan dengan kebutuhan konteks situasi.
Pembelajaran bahasa yang dilakukan menurut konteks akan membantu siswa mengaplikasikan kompetensi komunikatif yang dimilikinya dalam kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seseorang belajar bahasa asing, maka seyogyanya bahasa yang dipelajari tersebut dapat dipraktekkan dalam kehidupan nyata, yakni mereka dapat menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi.
Pembelajaran bahasa Arab berdasarkan prinsip kontekstual ini menuntut agar materi atau bahan ajar didukung oleh penggunaan bahan ajar yang autentik; meliputi koran, majalah, program radio dan televisi, website dan sebagainya. Sementara itu, dalam perspektif siswa penggunaan bahan ajar yang autentik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Satu hal yang perlu pula dipahami, bahwa makna kontekstual sebagaimana dijelaskan oleh Gudykunts and Kim (1992), bisa berupa konteks eksternal; yang meliputi lokasi dimana komunikasi terjadi dan diliputi makna sosial, dan konteks internal; yang meliputi makna kultural yang dimiliki. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna kontekstual dalam pembelajaran bahasa asing yakni konteks budaya bahasa target dan konteks budaya siswa itu sendiri.
Untuk dapat mengimplementasikan prinsip pendekatan kontekstual dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas, maka perlu disusun perencanaan program pembelajaran; mulai dari silabus, RPP (Rencana Program Pembelajaran), hingga proses evaluasi dengan menerapkan prinsip authentic assessment. Hal-hal tersebut akan penulis uraikan dalam pembahasan berikut:
a. Pengembangan Silabus dan RPP Berbasis Kontekstual
Silabus merupakan uraian program yang mencantumkan mata pelajaran, tingkat satuan pendidikan, semester, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, indikator, strategi pembelajaran, alokasi waktu, sumber dan media, serta sistem penilaian. Dengan pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah, membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan demokratisasi dalam penyelenggaraan pembelajaran. Dengan demikian, penyusunan silabus menjadi kewenangan daerah atau sekolah.
RPP atau Rencana Program Pembelajaran adalah rencana atau program yang disusun oleh guru untuk satu atau dua kali pertemuan untuk mencapai target satu kompetensi dasar. RPP diturunkan dari silabus yang telah disusun dan bersifat aplikatif di kelas. RPP berisi gambaran tentang kompetensi dasar yang akan dicapai, indikator, materi pokok, tahapan skenario pembelajaran dan penilaian.
Secara umum, sebagaimana dikatakan oleh Nurhadi, tidak ada perbedaan mendasar antara silabus ataupun RPP dalam pembelajaran konvensional dengan Silabus atau RPP yang menggunakan pendekatan kontekstual. Hanya saja program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai, sedangkan pada program pembelajaran kontekstual lebih menekankan kepada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam menyusun silabus ataupun RPP adalah sebagai berikut:
Nyatakan kegiatan utama pembelajaran, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok dan indikator. Misalnya dalam buku ajar Bahasa Arab untuk Madrasah Aliyah Program Bahasa terdapat materi المناطق السياحية :
Kompetensi Dasar: Membaca, memahami, berbicara dan menulis dengan
tema Wisata.
Materi Pokok : المناطق السياحية
Indikator : Mampu berbicara tentang objek-objek wisata di
tanah air dengan menggunakan bahasa Arab.
Maka kegiatan utama pembelajarannya adalah: latihan mengungkapkan objek-objek wisata yang ada di masing-masing daerah siswa dalam bahasa Arab dengan menggunakan mufrodat baru dari materi pokok المناطق السياحية .
Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
Rincilah media untuk mendukung kegiatan tersebut
Buatlah skenario kegiatan siswa tahap demi tahap
Nyatakan authentic assessment.
Berikut ini penulis cantumkan contoh RPP bahasa Arab Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berbasis CTL.
Contoh:
Satuan Pendidikan : Madrasah Aliyah
Topik/Kegiatan : Mendeskripsikan objek wisata di tanah air.
Kompetensi Dasar : Menulis paragraf deskripsi
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : XII/2
Waktu : 3 x 45 menit
A. Kompetensi Dasar
Menulis paragraf deskripsi
B. Indikator
Mampu menulis paragraf deskripsi
C. Tujuan
Melatih siswa mendeskripsikan kondisi/keindahan salah satu objek wisata di tanah air yang dia ketahui dalam bahasa Arab kemudian mengungkapkannya dalam kalimat deskritif.
D. Media
• Tayangan / video tentang Kebun Raya Bogor, Puncak, dan Bali yang telah dipersiapkan oleh guru sebelumnya.
• Menggunakan material authentic yang diambil dari majalah ألو إندونيسيا edisi ke-71, halaman 4; disana terdapat sebuat artikel wisata dengan judul بحيرة ليدو: روعة الطبيعية بين ثلاث جبال.
E. Skenario Pembelajaran
Pertemuan I
1. Guru memperlihatkan sebuah artikel berbahasa Arab yang memuat keindahan objek wisata Danau Lido di Sukabumi Jawa Barat. Guru memberikan contoh deskriptif dalam bahasa Arab yang menggambarkan secara rinci objek wisata Danau Lido.
2. Guru menayangkan video yang berisi gambar beberapa objek wisata, diantaranya Kebun Raya Bogor, Puncak, dan Bali.
3. Guru memberikan contoh/mendemonstrasikan bagaimana mendeskripsikan keindahan objek wisata sesuai dengan tayangan yang sedang diputar dengan menggunakan bahasa Arab.
4. Siswa mempelajari qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور yang terdapat dalam bahan ajar.
5. Siswa melatih kemampuan membaca qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور dengan lafal yang tepat dan intonasi yang benar.
6. Siswa mempelajari terjemah qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور .
7. Guru menguji kemampuan membaca dan menerjemahkan masing-masing siswa.
8. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas untuk memilih salah satu objek wisata yang ada di Indonesia. Masing-masing kelompok diminta untuk mencari foto-foto tentang objek wisata yang dipilih dari internet, dan semua anggota kelompok harus mendeskripsikan objek wisata sesuai dengan foto-foto yang ditayangkan dengan menggunakan bahasa Arab. Guru memberikan waktu satu minggu untuk semua kelompok menyelesaikan tugas tersebut.
Pertemuan II
1. Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan mempersiapkan media yang akan digunakan dalam presentasi kelompok
2. Masing-masing kelompok mendapat giliran untuk mempresentasikan tugas mereka, yaitu mendeskripsikan objek wisata sesuai dengan foto-foto yang ditayangkan dengan menggunakan bahasa Arab.
3. Setelah semua kelompok selesai melakukan presentasi, guru memberikan komentar, kritik dan saran untuk beberapa hal yang diperlukan.
4. Sebagai penutup, guru secara terbuka memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menyampaikan kesan-kesan yang mereka rasakan melalui pembelajaran ini.
F. Penilaian
Data kemajuan belajar diperoleh dari:
A. Partisipasi setiap siswa dalam kerja kelompok
B. Cara siswa menyampaikan ulasan deskriprif secara lisan
C. Paragraf deskriptif yang ditulis siswa.
b. Pelaksanaan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Hasil penelitian Nuril Mu’jizah di 5 Madrasah Aliyah di Kabupaten pasuruan menunjukkan bahwa konsep pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Arab telah lama diterapkan di madrasah-madrasah tersebut. Kontekstual yang dimaksud dipandang dari dua sudut, yaitu: tema dan lingkungan. Contoh kontekstualisasi yang telah dilakukan antara lain dengan membahas tema “المظاهرة” ketika di Indonesia sedang marak terjadi aksi demonstrasi, membahas ”فيضان الطمي الساخن” ketika terjadi tragedy lumpur panas Lapindo, dan masih banyak lagi berita-berita dari berbagai media yang bisa diambil dan diangkat sebagai tema dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas.
Kontekstualisasi lingkungan dilakukan sebagai upaya untuk mengajarkan bahasa Arab berdasarkan lingkungan sosial siswa. Pembelajaran kontekstual dalam hal ini terjadi karena siswa mengalami langsung apa yang sedang diajarkan. Dalam hal ini pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan dengan tema-tema yang paling dekat dengan lingkungan siswa. Misalnya, di awal proses pembelajaran bahasa Arab, guru mengajarkan ungkapan-ungkapan yang dibutuhkan oleh siswa untuk berkomunikasi dalam lingkungan sekolah. Kegiatan lain yang dapat dilakukan, misalnya pada tahap appersepsi di kelas, guru berbincang dengan beberapa orang siswa dalam bahasa Arab, menanyakan kabar mereka, tempat tinggal,kegiatan di rumah sebelum berangkat ke sekolah dan lain sebagainya. Cara belajar demikian memberikan efek positif bagi banyak siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran secara kontekstual dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.
c. Authentic Assesment
Authentic Assesment atau penilaian yang sebenarnya merupakan prosedur penilaian yang diambil dari berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Authentic Assesment menunjukkan bahwa pembelajaran telah terjadi, menyatu ke dalam proses belajar mengajar dan memberikan kesempatan serta arahan kepada siswa untuk maju. Authentic Assesment sekaligus dipergunakan sebagai alat control untuk melihat kemajuan siswa dan feedback bagi praktek pengajaran. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assesmen tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan kepada sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik:
• Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
• Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
• Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
• Berkesinambungan
• Terintegrasi
• Dapat digunakan sebagai feed back
Dalam CTL, hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, antara lain:
1. Proyek/kegiatan dan laporannya
2. Kuis
3. Karya siswa (dapat pula berupa karya tulis)
4. Presentasi atau penampilan siswa
5. Demonstrasi
6. Hasil tes tulis
Dengan demikian, penilaian terhadap kemampuan siswa dalam berbahasa Arab harus dilihat dari kegiatan nyata pada saat siswa menggunakan bahasa Arab tersebut, bukan dari hasil ujian bahasa Arab semata. Dengan penilaian yang autentik ini dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar.
d. Penutup
Berbagai permasalahan pembelajaran Bahasa Arab yang muncul di madrasah/sekolah, utamanya berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi pendekatan pembelajaran, seringkali dihadapi oleh para guru bahasa Arab. Untuk menjawab persoalan tersebut, perlu adanya inovasi-inovasi baru dalam pendekatan pembelajaran bahasa Arab ini.
Pembelajaran berbasis kontekstual dapat dijadikan salah satu jawaban dari persoalan tersebut yang perlu diketahui, difahami dan diaplikasikan oleh guru dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pembelajarn kontekstual yang bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang dapat diterapkan dari satu konteks ke konteks lainnya ini memiliki beberapa komponen; (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) membuat pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yangd iatur sendiri, (4) melakukan kerjasama, (5) mengembangkan pola berpikir kritis dan kreatif, (6) memelihara atau mengasuh pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunakan penilaian autentik.
Mendidik bukan hanya mengajar, oleh karena itu guru seyogyanya tidak berhenti belajar, meningkatkan pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki, serta tidak berhenti mencari dan mencoba berbagai inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas, agar dapat melaksanakan dengan baik tugas yang tengah diemban.
Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007, dijelaskan bahwa kurikulum Bahasa Arab merupakan kurikulum dasar awal, dengan alokasi waktu yang sangat terbatas. Dalam kelas bahasa Arab, siswa didorong untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan membaca, menulis, mengungkapkan pendapat, membandingkan dan mendiskusikan suatu teks. Siswa didorong untuk mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan global.
Dengan tujuan dan harapan yang sedemikian besar terhadap hasil pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Aliyah, maka diperlukan usaha yang sangat keras dari berbagai pihak untuk dapat mencapainya. Guru, sebagai ujung tombak pelaksana di kelas, senantiasa dituntut untuk mencari dan menerapkan berbagai inovasi dalam pembelajaran bahasa Arab, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Pendekatan, metode dan teknik pengajaran dan pembelajaran bahasa asing dari waktu ke waktu mengalami perkembangan sesuai dengan berkembangnya pemikiran para ahli pengajaran bahasa. Lebih dari itu, hasil-hasil penelitian dalam bidang pengajaran bahasa itu sendiri memberikan kontribusi kepada lahirnya pendekatan dan metode baru dalam pengajaran bahasa.
Salah satu topik hangat dalam dunia pendidikan beberapa saat terakhir ini adalah isu pembelajaran kontekstual, atau juga dikenal dengan istilah CTL (Contextual Teaching-Learning). Istilah ini muncul dalam pendekatan pengajaran umum di dunia pendidikan. Padahal jauh sebelum ini, prinsip kontekstual telah ada pada pengajaran bahasa asing, yakni merupakan prinsip dasar dari pendekatan komunikatif. Menurut Fuad Efendy, CTL banyak memiliki kesamaan prinsip dan karakteristik dengan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional telah lama mengembangkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran secara umum.Hal ini sebagai upaya menjawab berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran, CTL dapat diterapkan dalam semua pelajaran, termasuk bahasa Arab.
B. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual
Landasan munculnya pendekatan ini adalah filsafat konstruktivisme. Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi kita sendiri. Pengetahuan adalah bukan hasil dari ‘pemberian’ orang lain, seperti guru, tetapi dari hasil dari mengkonstruksi yang dilakukan oleh setiap individu. Apabila seorang guru bermaksud mentransfer konsep, ide, pengetahuannya kepada siswa, pentransferan itu akan diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh siswa sendiri melalui pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri.
Konteks biasanya disamakan dengan lingkungan, yaitu dunia luar yang dikomunikasikan melalui panca indera atau ruang yang kita gunakan setiap hari. Dengan demikian, pengajaran dan pembelajaran kontekstual merupakan sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasikan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
Johnson mendefinisikan CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadi, sosial dan budayanya.
Lebih rinci, Johnson merumuskan 8 komponen perilaku siswa dalam proses belajar untuk mencapai tujuan dari pembelajaran kontekstual. 8 komponen tersebut adalah:
1. Making meaningful connection (membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna), yaitu mendorong siswa agar dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata.
2. Doing significant work (melakukan pekerjaan yang berarti).
Siswa melakukan pekerjaan yang berarti; ada tujuan, ada manfaat yang diperoleh dan ada produk / hasil nyata.
3. Self-regulated Learning (melakukan pembelajaran yang diatur sendiri).
Siswa dapat mengatur dirinya dalam belajar, disesuaikan dengan kemampuan, bakat dan minat dalam mengembangkan potensi dirinya.
4. Collaborating (melakukan kerjasama).
Siswa melakukan kerjasama dalam belajar, baik dengan sesama siswa lainnya maupun dengan guru, karyawan dan orang lain.
5. Critical and Creative Thinking (berfikir kritis dan kreatif).
Siswa didorong untuk berfikir tingkat tinggi, seperti menganalisa, memecahkan masalah, membuat keputusan, menggunakan logika dan menyusun argumen berdasarkan fakta.
6. Nurturing the individual (memelihara atau mengasuh pribadi siswa).
Pembelajaran harus dapat membentuk pribadi siswa dengan baik, sekaligus memberikan dorongan (motivasi) untuk belajar saling memahami dan menghormati sesama teman.
7. Reaching high standard (mencapai standar yang tinggi).
Siswa didorong untuk tekun dan rajin belajar agar mencapai standar yang lebih baik.
8. Using authentic assesment (menggunakan penilaian autentik)
Penilaian terhadap siswa tidak hanya dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran, akan tetapi penilaian juga harus berlangsung dalam proses pembelajaran. Penilaian hendaknya dilakukan untuk menilai apa yang seharusnya dinilai.
Dari uraian diatas, nampak bahwa pendekatan kontekstual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan ‘situasi dunia nyata’ ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan dapat lebih bermakna bagi siswa.
Nurhadi mengatakan, bahwa pembelajaran kontekstual melatih siswa untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata. Disamping itu, pendekatan ini menjanjikan mampu menghidupkan suasana kelas yang bergairah dalam belajar bahkan siswa kecanduan belajar. Melalui pendekatan kontekstual siswa akan dibawa tidak hanya masuk ke kawasan pengetahuan tetapi juga pada penerapan pengetahuan yang didapatkannya.
C. Implementasi CTL dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Pembahasan prinsip kontekstual untuk pembelajaran bahasa sangat erat kaitannya dengan pragmatik bahasa. Pragmatik merupakan studi tentang kemampuan pemakai bahasa untuk menyesuaikan kalimat-kalimat yang digunakan dengan konteksnya. Dengan demikian, pembelajaran bahasa asing menurut prinsip ini diajarkan dalam ungkapan-ungkapan kalimat yang disesuaikan dengan kebutuhan konteks situasi.
Pembelajaran bahasa yang dilakukan menurut konteks akan membantu siswa mengaplikasikan kompetensi komunikatif yang dimilikinya dalam kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa apabila seseorang belajar bahasa asing, maka seyogyanya bahasa yang dipelajari tersebut dapat dipraktekkan dalam kehidupan nyata, yakni mereka dapat menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi.
Pembelajaran bahasa Arab berdasarkan prinsip kontekstual ini menuntut agar materi atau bahan ajar didukung oleh penggunaan bahan ajar yang autentik; meliputi koran, majalah, program radio dan televisi, website dan sebagainya. Sementara itu, dalam perspektif siswa penggunaan bahan ajar yang autentik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Satu hal yang perlu pula dipahami, bahwa makna kontekstual sebagaimana dijelaskan oleh Gudykunts and Kim (1992), bisa berupa konteks eksternal; yang meliputi lokasi dimana komunikasi terjadi dan diliputi makna sosial, dan konteks internal; yang meliputi makna kultural yang dimiliki. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna kontekstual dalam pembelajaran bahasa asing yakni konteks budaya bahasa target dan konteks budaya siswa itu sendiri.
Untuk dapat mengimplementasikan prinsip pendekatan kontekstual dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas, maka perlu disusun perencanaan program pembelajaran; mulai dari silabus, RPP (Rencana Program Pembelajaran), hingga proses evaluasi dengan menerapkan prinsip authentic assessment. Hal-hal tersebut akan penulis uraikan dalam pembahasan berikut:
a. Pengembangan Silabus dan RPP Berbasis Kontekstual
Silabus merupakan uraian program yang mencantumkan mata pelajaran, tingkat satuan pendidikan, semester, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pokok, indikator, strategi pembelajaran, alokasi waktu, sumber dan media, serta sistem penilaian. Dengan pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah, membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan demokratisasi dalam penyelenggaraan pembelajaran. Dengan demikian, penyusunan silabus menjadi kewenangan daerah atau sekolah.
RPP atau Rencana Program Pembelajaran adalah rencana atau program yang disusun oleh guru untuk satu atau dua kali pertemuan untuk mencapai target satu kompetensi dasar. RPP diturunkan dari silabus yang telah disusun dan bersifat aplikatif di kelas. RPP berisi gambaran tentang kompetensi dasar yang akan dicapai, indikator, materi pokok, tahapan skenario pembelajaran dan penilaian.
Secara umum, sebagaimana dikatakan oleh Nurhadi, tidak ada perbedaan mendasar antara silabus ataupun RPP dalam pembelajaran konvensional dengan Silabus atau RPP yang menggunakan pendekatan kontekstual. Hanya saja program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai, sedangkan pada program pembelajaran kontekstual lebih menekankan kepada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam menyusun silabus ataupun RPP adalah sebagai berikut:
Nyatakan kegiatan utama pembelajaran, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok dan indikator. Misalnya dalam buku ajar Bahasa Arab untuk Madrasah Aliyah Program Bahasa terdapat materi المناطق السياحية :
Kompetensi Dasar: Membaca, memahami, berbicara dan menulis dengan
tema Wisata.
Materi Pokok : المناطق السياحية
Indikator : Mampu berbicara tentang objek-objek wisata di
tanah air dengan menggunakan bahasa Arab.
Maka kegiatan utama pembelajarannya adalah: latihan mengungkapkan objek-objek wisata yang ada di masing-masing daerah siswa dalam bahasa Arab dengan menggunakan mufrodat baru dari materi pokok المناطق السياحية .
Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
Rincilah media untuk mendukung kegiatan tersebut
Buatlah skenario kegiatan siswa tahap demi tahap
Nyatakan authentic assessment.
Berikut ini penulis cantumkan contoh RPP bahasa Arab Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berbasis CTL.
Contoh:
RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP)
Satuan Pendidikan : Madrasah Aliyah
Topik/Kegiatan : Mendeskripsikan objek wisata di tanah air.
Kompetensi Dasar : Menulis paragraf deskripsi
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : XII/2
Waktu : 3 x 45 menit
A. Kompetensi Dasar
Menulis paragraf deskripsi
B. Indikator
Mampu menulis paragraf deskripsi
C. Tujuan
Melatih siswa mendeskripsikan kondisi/keindahan salah satu objek wisata di tanah air yang dia ketahui dalam bahasa Arab kemudian mengungkapkannya dalam kalimat deskritif.
D. Media
• Tayangan / video tentang Kebun Raya Bogor, Puncak, dan Bali yang telah dipersiapkan oleh guru sebelumnya.
• Menggunakan material authentic yang diambil dari majalah ألو إندونيسيا edisi ke-71, halaman 4; disana terdapat sebuat artikel wisata dengan judul بحيرة ليدو: روعة الطبيعية بين ثلاث جبال.
E. Skenario Pembelajaran
Pertemuan I
1. Guru memperlihatkan sebuah artikel berbahasa Arab yang memuat keindahan objek wisata Danau Lido di Sukabumi Jawa Barat. Guru memberikan contoh deskriptif dalam bahasa Arab yang menggambarkan secara rinci objek wisata Danau Lido.
2. Guru menayangkan video yang berisi gambar beberapa objek wisata, diantaranya Kebun Raya Bogor, Puncak, dan Bali.
3. Guru memberikan contoh/mendemonstrasikan bagaimana mendeskripsikan keindahan objek wisata sesuai dengan tayangan yang sedang diputar dengan menggunakan bahasa Arab.
4. Siswa mempelajari qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور yang terdapat dalam bahan ajar.
5. Siswa melatih kemampuan membaca qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور dengan lafal yang tepat dan intonasi yang benar.
6. Siswa mempelajari terjemah qiro`ah الحديقة الكبرى ببوغور .
7. Guru menguji kemampuan membaca dan menerjemahkan masing-masing siswa.
8. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok mendapat tugas untuk memilih salah satu objek wisata yang ada di Indonesia. Masing-masing kelompok diminta untuk mencari foto-foto tentang objek wisata yang dipilih dari internet, dan semua anggota kelompok harus mendeskripsikan objek wisata sesuai dengan foto-foto yang ditayangkan dengan menggunakan bahasa Arab. Guru memberikan waktu satu minggu untuk semua kelompok menyelesaikan tugas tersebut.
Pertemuan II
1. Kegiatan belajar mengajar dimulai dengan mempersiapkan media yang akan digunakan dalam presentasi kelompok
2. Masing-masing kelompok mendapat giliran untuk mempresentasikan tugas mereka, yaitu mendeskripsikan objek wisata sesuai dengan foto-foto yang ditayangkan dengan menggunakan bahasa Arab.
3. Setelah semua kelompok selesai melakukan presentasi, guru memberikan komentar, kritik dan saran untuk beberapa hal yang diperlukan.
4. Sebagai penutup, guru secara terbuka memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk menyampaikan kesan-kesan yang mereka rasakan melalui pembelajaran ini.
F. Penilaian
Data kemajuan belajar diperoleh dari:
A. Partisipasi setiap siswa dalam kerja kelompok
B. Cara siswa menyampaikan ulasan deskriprif secara lisan
C. Paragraf deskriptif yang ditulis siswa.
b. Pelaksanaan Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Hasil penelitian Nuril Mu’jizah di 5 Madrasah Aliyah di Kabupaten pasuruan menunjukkan bahwa konsep pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran bahasa Arab telah lama diterapkan di madrasah-madrasah tersebut. Kontekstual yang dimaksud dipandang dari dua sudut, yaitu: tema dan lingkungan. Contoh kontekstualisasi yang telah dilakukan antara lain dengan membahas tema “المظاهرة” ketika di Indonesia sedang marak terjadi aksi demonstrasi, membahas ”فيضان الطمي الساخن” ketika terjadi tragedy lumpur panas Lapindo, dan masih banyak lagi berita-berita dari berbagai media yang bisa diambil dan diangkat sebagai tema dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas.
Kontekstualisasi lingkungan dilakukan sebagai upaya untuk mengajarkan bahasa Arab berdasarkan lingkungan sosial siswa. Pembelajaran kontekstual dalam hal ini terjadi karena siswa mengalami langsung apa yang sedang diajarkan. Dalam hal ini pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan dengan tema-tema yang paling dekat dengan lingkungan siswa. Misalnya, di awal proses pembelajaran bahasa Arab, guru mengajarkan ungkapan-ungkapan yang dibutuhkan oleh siswa untuk berkomunikasi dalam lingkungan sekolah. Kegiatan lain yang dapat dilakukan, misalnya pada tahap appersepsi di kelas, guru berbincang dengan beberapa orang siswa dalam bahasa Arab, menanyakan kabar mereka, tempat tinggal,kegiatan di rumah sebelum berangkat ke sekolah dan lain sebagainya. Cara belajar demikian memberikan efek positif bagi banyak siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran secara kontekstual dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.
c. Authentic Assesment
Authentic Assesment atau penilaian yang sebenarnya merupakan prosedur penilaian yang diambil dari berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Authentic Assesment menunjukkan bahwa pembelajaran telah terjadi, menyatu ke dalam proses belajar mengajar dan memberikan kesempatan serta arahan kepada siswa untuk maju. Authentic Assesment sekaligus dipergunakan sebagai alat control untuk melihat kemajuan siswa dan feedback bagi praktek pengajaran. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, maka assesmen tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan kepada sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran.
Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman atau orang lain. Karakteristik penilaian autentik:
• Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
• Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
• Yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
• Berkesinambungan
• Terintegrasi
• Dapat digunakan sebagai feed back
Dalam CTL, hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, antara lain:
1. Proyek/kegiatan dan laporannya
2. Kuis
3. Karya siswa (dapat pula berupa karya tulis)
4. Presentasi atau penampilan siswa
5. Demonstrasi
6. Hasil tes tulis
Dengan demikian, penilaian terhadap kemampuan siswa dalam berbahasa Arab harus dilihat dari kegiatan nyata pada saat siswa menggunakan bahasa Arab tersebut, bukan dari hasil ujian bahasa Arab semata. Dengan penilaian yang autentik ini dapat diketahui bahwa peserta didik mengalami proses pembelajaran dengan benar.
d. Penutup
Berbagai permasalahan pembelajaran Bahasa Arab yang muncul di madrasah/sekolah, utamanya berkaitan dengan efektivitas dan efisiensi pendekatan pembelajaran, seringkali dihadapi oleh para guru bahasa Arab. Untuk menjawab persoalan tersebut, perlu adanya inovasi-inovasi baru dalam pendekatan pembelajaran bahasa Arab ini.
Pembelajaran berbasis kontekstual dapat dijadikan salah satu jawaban dari persoalan tersebut yang perlu diketahui, difahami dan diaplikasikan oleh guru dalam proses pembelajaran bahasa Arab. Pembelajarn kontekstual yang bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang dapat diterapkan dari satu konteks ke konteks lainnya ini memiliki beberapa komponen; (1) membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) membuat pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yangd iatur sendiri, (4) melakukan kerjasama, (5) mengembangkan pola berpikir kritis dan kreatif, (6) memelihara atau mengasuh pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, (8) menggunakan penilaian autentik.
Mendidik bukan hanya mengajar, oleh karena itu guru seyogyanya tidak berhenti belajar, meningkatkan pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki, serta tidak berhenti mencari dan mencoba berbagai inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas, agar dapat melaksanakan dengan baik tugas yang tengah diemban.
---------
سُبْحَانَ الله
عِنْدَ الفَجْرِ كُنْتُ أُصَلِّي أُصَلِّي لله تَعَالَى
أَذْكُرُ شَوْقًا اسْمَ الله حُبًّا إِكْرَامًا إِجْلاَلاً
نَظَرْتُ إِلَى حَدِيْقَةِ بَيْتِنَا فَوَجَدْتُ عُصْفُوْرَةً فِي السَّمَاءِ
فَكَانَتْ تَجْدُوْ وَ تَقُوْل :
سُبْحَانَ الله مَنْ رَفَعَ السَّمَاء وَأَحْسَنَ البِنَاء سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله فَاحَتِ الزُّهُوْر بِأَجْمَلِ العُطُوْر سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله مَنْ جَادَ بِالهَوَى أَنْسَامُهُ الدَّوَاء سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله مَا أَجْمَلَ الشُّمُوْل مِنْ حُسْنِهَا تقول سُبْحَانَ الله
عِنْدَ الفَجْرِ كُنْتُ أُصَلِّي أُصَلِّي لله تَعَالَى
أَذْكُرُ شَوْقًا اسْمَ الله حُبًّا إِكْرَامًا إِجْلاَلاً
قَالَتْ لِي مُعَلِّمَتِي بِكُلِّ إِيْمَان: مَنْ وَهَبَ العَقْلَ والرُّوْحَ وَالجَنَان ؟
سُبْحَانَ الله كَوَّنَ الإِنْسَان عَلَّمَ البَيَان سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله يَا مَنْ وَهَبَ الرُّوْح حَتَّى نَغْدُوْ وَ نَرُوْح سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله وَالعَقْلَ وَالجَنَان وَالرُّوْحَ وَالحَنَان سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله حَمْدًا شُكْرًا لله كُلُّ الرَّجَاء بالله سُبْحَانَ الله
الله ... يَا الله ... يَا الله ... يَا الله
أَذْكُرُ شَوْقًا اسْمَ الله حُبًّا إِكْرَامًا إِجْلاَلاً
نَظَرْتُ إِلَى حَدِيْقَةِ بَيْتِنَا فَوَجَدْتُ عُصْفُوْرَةً فِي السَّمَاءِ
فَكَانَتْ تَجْدُوْ وَ تَقُوْل :
سُبْحَانَ الله مَنْ رَفَعَ السَّمَاء وَأَحْسَنَ البِنَاء سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله فَاحَتِ الزُّهُوْر بِأَجْمَلِ العُطُوْر سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله مَنْ جَادَ بِالهَوَى أَنْسَامُهُ الدَّوَاء سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله مَا أَجْمَلَ الشُّمُوْل مِنْ حُسْنِهَا تقول سُبْحَانَ الله
عِنْدَ الفَجْرِ كُنْتُ أُصَلِّي أُصَلِّي لله تَعَالَى
أَذْكُرُ شَوْقًا اسْمَ الله حُبًّا إِكْرَامًا إِجْلاَلاً
قَالَتْ لِي مُعَلِّمَتِي بِكُلِّ إِيْمَان: مَنْ وَهَبَ العَقْلَ والرُّوْحَ وَالجَنَان ؟
سُبْحَانَ الله كَوَّنَ الإِنْسَان عَلَّمَ البَيَان سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله يَا مَنْ وَهَبَ الرُّوْح حَتَّى نَغْدُوْ وَ نَرُوْح سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله وَالعَقْلَ وَالجَنَان وَالرُّوْحَ وَالحَنَان سُبْحَانَ الله
سُبْحَانَ الله حَمْدًا شُكْرًا لله كُلُّ الرَّجَاء بالله سُبْحَانَ الله
الله ... يَا الله ... يَا الله ... يَا الله
العربية بين يديك
Keterbatasan bahan ajar yang hanya terpaku pada buku paket yang ada nampaknya masih menjadi kendala untuk berlangsungnya proses pembelajaran yang efektif. Bahkan Fuad Effendy –salah seorang dosen di Universitas Negeri Malang yang telah memiliki banyak pengalaman dalam dunia pengajaran bahasa Arab- dengan tegas menjelaskan bahwa proses pembelajaran bahasa Arab di kelas masih mengidap banyak kekurangan, antara lain terbatasnya materi dan media, termasuk buku teks, rendahnya minat baca pembelajar, serta buruknya naskah teks.
Buku paket yang dijadikan sebagai satu-satunya bahan ajar berdampak pada pelaksanaan metode pembelajaran yang cenderung monoton dan tidak variatif. Kendala ini tentu dapat diimbangi dengan usaha guru untuk memanfaatkan sumber-sumber lain sebagai bahan ajar di kelas. Apalagi, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) memberi keluasan kesempatan kepada guru untuk menyusun bahan ajar sesuai dengan kondisi yang di hadapi di sekolah masing-masing. KTSP juga tidak menetapkan materi-materi baku yang harus diajarkan di dalam kelas, melainkan hanya menetapkan Standar Kompetensi Lulusan sebagai acuan yang harus digunakan guru dalam menetapkan materi. Dengan pemberlakuan UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP No. 25 tahun 2000 tentang Otonomi Daerah, membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan demokratisasi dalam penyelenggaraan pembelajaran, termasuk penyusunan bahan ajar.
Sebagai salah satu contoh keterbatasan buku paket sebagaimana digambarkan sebelumnya adalah keterbatasan buku paket untuk mata pelajaran bahasa Arab sebagai bahasa Asing pilihan di Jurusan Bahasa Madrasah Aliyah/SMA. Buku paket yang ada adalah buku yang diterbitkan tahun 1999, yaitu Buku Bahasa Arab untuk Program Bahasa Madrasah Aliyah. Selain buku tersebut, Departemen Agama tidak menerbitkan buku paket baru yang sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan yang tercantum dalam KTSP 2007. Hal ini berarti guru sendiri yang harus merumuskan bahan ajar yang sesuai dengan acuan KTSP 2007 tersebut.
Sumber-sumber berbahasa Arab yang dapat digunakan sebagai bahan ajar mata pelajaran bahasa Arab telah banyak disebarkan dan dengan mudah dapat diakses. Beberapa diantaranya bahkan dilengkapi dengan media pendukung untuk melatih kemampuan menyimak (istima’ ), seperti al-Arabiyyah li al-Nasyi’in, al-Arabiyyah Bayna Yadayk, dan Durus al-Lughah al-Arabiyyah.
Hampir semua tema yang ditetapkan dalam kurikulum terdapat dalam buku-buku tersebut. Tema Identitas Diri, Sekolah, Keluarga, dan Kehidupan Sehari-hari, terdapat dalam al-Arabiyyah li al-Nasyi’in jilid 1 dan 2. Serta untuk tema Hobi, Wisata, Layanan Umum dan Profesi, bisa diambil dari al-Arabiyyah Bayna Yadayk jilid 1.
Pilihan sumber-sumber belajar tersebut diatas dapat menjadi salah satu alternatif bahan belajar yang menarik, karena dilengkapi dengan kaset yang diisi oleh suara native speaker. Hal ini tentu saja dapat membantu pembelajar agar terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan bahasa Arab dari penutur asli. Materi al-Arabiyyah Bayna Yadayk tersebut dapat dengan mudah diakses.
Materi yang dilengkapi dengan gambar-gambar pendukung yang menarik di dalam buku tersebut diharapkan dapat menimbulkan minat pembelajar untuk membaca dan memahaminya. Disamping itu, buku yang dilengkapi dengan kaset yang memuat contoh-contoh pengucapan semua ungkapan yang terdapat dalam materi tentunya lebih tepat digunakan dibanding jika contoh-contoh ungkapan tersebut hanya disemonstrasikan oleh guru. Para pembelajar dapat terbiasa menyimak bagaimana intonasi dan gaya berbicara orang Arab secara langsung.
-------------
HUMANISASI PEMBELAJARAN BAHASA ASING
Kajian terhadap kata “humanisasi” yang dikaitkan dengan konsep humanistik dapat menimbulkan persepsi yang berbeda dalam memaknainya. Prinsip-prinsip dasar humanistik tersebut acapkali dipandang erat kaitannya dengan konsep humanisme Barat yang sekuler, yang mengemukakan konsep perikemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan (antropocentris). Padahal, jika dipahami dengan benar, maka konsep humanistik dalam pendidikan, termasuk dalam pembelajaran bahasa asing, akan membawa kepada sikap pernghargaan terhadap pengembangan potensi manusia dengan tidak keluar dari koridor nilai-nilai agama dan budaya.
Gertrude Moskowitz (1978) dan Earl W. Stevick (1990) mengembangkan teori humanistik dalam pembelajaran bahasa asing. Teori ini memandang pembelajar tidak hanya sebagai objek berlangsungnya stimulus respon saja, tetapi juga memperhatikan setiap kebutuhan dasar siswa dan melihat proses pembelajaran dari aspek afektif, serta membantu mereka untuk mengembangkan potensi diri mereka.
Berdasarkan kajian dalam sebuah penelitian, indikator-indikator pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa asing dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Aktivitas belajar berpusat pada siswa
- Mengembangkan situasi pembelajaran komunikatif
- Atmosfir pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan
- Memahami perbedaan karakteristik dan potensi siswa
- Memperhatikan aspek emosional, sosial, dan spiritual siswa
- Mendorong kreativitas berbahasa
- Memaafkan kesalahan berbahasa
- Menekankan kepada proses pembelajaran
Beberapa penelitian dan hasil survey tentang proses pembelajaran bahasa asing di beberapa sekolah menggambarkan bahwa banyak sekali peluang-peluang untuk menjadikan pembelajaran bahasa menjadi lebih humanis justru “terabaikan”. Kondisi yang dimaksud diantaranya adalah: Pertama, guru kurang kreatif memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mengoptimalkan media pembelajaran. Kedua, aktivitas belajar masih didominasi oleh metode ceramah dan proses pembelajaran kurang variatif sehingga kurang mengakomodir perbedaan gaya belajar siswa. Ketiga, penanaman nilai-nilai religius tidak menjadi bagian penting dalam pembelajaran bahasa asing. Keempat, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas komunikatif, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kelima, tidak adanya usaha menciptakan lingkungan berbahasa yang kondusif agar dapat meningkatkan motivasi para siswa untuk mempraktekkan bahasa asing yang mereka pelajari.
Aplikasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa asing di sekolah dimulai dari perumusan rencana-rencana program pembelajaran, pelaksanaannya dalam metode serta teknik pembelajaran, hingga evaluasi. Pelaksanaan pembelajaran tentu tidak terlepas dari kurikulum yang berlaku saat ini. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007 merupakan kurikulum yang mempunyai karakteristik pendekatan humanistik, karena tidak hanya berorientasi pada pencapaian materi semata, tetapi juga berpihak pada kebutuhan dasar siswa. Namun tentu saja upaya humanisasi dalam pembelajaran bahasa asing tidak cukup hanya diwujudkan dalam perumusan kurikulum saja, melainkan perlu adanya dukungan dan konsistensi penuh dari seluruh stakeholder pendidikan, dan terutama usaha yang sungguh-sungguh dari guru untuk dapat mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas.
Dengan pendekatan humanistik ini, guru-guru bahasa asing dapat menciptakan suatu proses pembelajaran yang memberikan andil yang besar terhadap pembentukan karakter para siswa, dan membantu mereka untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal. Di samping itu, pendekatan humanistik yang diterapkan dapat melatih siswa untuk mampu belajar secara mandiri, terlatih untuk berfikir kritis dan kreatif, serta menimbulkan kepercayaan diri yang cukup besar untuk berbicara dalam bahasa target.
Gertrude Moskowitz (1978) dan Earl W. Stevick (1990) mengembangkan teori humanistik dalam pembelajaran bahasa asing. Teori ini memandang pembelajar tidak hanya sebagai objek berlangsungnya stimulus respon saja, tetapi juga memperhatikan setiap kebutuhan dasar siswa dan melihat proses pembelajaran dari aspek afektif, serta membantu mereka untuk mengembangkan potensi diri mereka.
Berdasarkan kajian dalam sebuah penelitian, indikator-indikator pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa asing dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Aktivitas belajar berpusat pada siswa
- Mengembangkan situasi pembelajaran komunikatif
- Atmosfir pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan
- Memahami perbedaan karakteristik dan potensi siswa
- Memperhatikan aspek emosional, sosial, dan spiritual siswa
- Mendorong kreativitas berbahasa
- Memaafkan kesalahan berbahasa
- Menekankan kepada proses pembelajaran
Beberapa penelitian dan hasil survey tentang proses pembelajaran bahasa asing di beberapa sekolah menggambarkan bahwa banyak sekali peluang-peluang untuk menjadikan pembelajaran bahasa menjadi lebih humanis justru “terabaikan”. Kondisi yang dimaksud diantaranya adalah: Pertama, guru kurang kreatif memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mengoptimalkan media pembelajaran. Kedua, aktivitas belajar masih didominasi oleh metode ceramah dan proses pembelajaran kurang variatif sehingga kurang mengakomodir perbedaan gaya belajar siswa. Ketiga, penanaman nilai-nilai religius tidak menjadi bagian penting dalam pembelajaran bahasa asing. Keempat, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan aktivitas komunikatif, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kelima, tidak adanya usaha menciptakan lingkungan berbahasa yang kondusif agar dapat meningkatkan motivasi para siswa untuk mempraktekkan bahasa asing yang mereka pelajari.
Aplikasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa asing di sekolah dimulai dari perumusan rencana-rencana program pembelajaran, pelaksanaannya dalam metode serta teknik pembelajaran, hingga evaluasi. Pelaksanaan pembelajaran tentu tidak terlepas dari kurikulum yang berlaku saat ini. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2007 merupakan kurikulum yang mempunyai karakteristik pendekatan humanistik, karena tidak hanya berorientasi pada pencapaian materi semata, tetapi juga berpihak pada kebutuhan dasar siswa. Namun tentu saja upaya humanisasi dalam pembelajaran bahasa asing tidak cukup hanya diwujudkan dalam perumusan kurikulum saja, melainkan perlu adanya dukungan dan konsistensi penuh dari seluruh stakeholder pendidikan, dan terutama usaha yang sungguh-sungguh dari guru untuk dapat mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas.
Dengan pendekatan humanistik ini, guru-guru bahasa asing dapat menciptakan suatu proses pembelajaran yang memberikan andil yang besar terhadap pembentukan karakter para siswa, dan membantu mereka untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal. Di samping itu, pendekatan humanistik yang diterapkan dapat melatih siswa untuk mampu belajar secara mandiri, terlatih untuk berfikir kritis dan kreatif, serta menimbulkan kepercayaan diri yang cukup besar untuk berbicara dalam bahasa target.
--------
أنسنة تعليم اللّغات الأجنبيّة
يمكن للدراسة "أنسنة" التي ترتبط بالمفاهيم الإنسانية يؤدي إلى تصورات مختلفة في تفسير ، لأنَّ الإصْطلاحَ يرتبط ارتباطا وثيقا بِمَفْهُوْمِ الإنْسَانِيَة الغَرْبِيَّةِ الدُّنْيَاوِيّة. رَأَى هذَا المفهوم أنّ الإنسَانِيَّة تَرْكِيْزٌ وَ أهمّ الهدف(antropocentris) . إذا فهمت بشكل صحيح ، كان مفهوم التعليم الإنساني - بما في ذلك تعليم اللغات الاجنبية - سوف تؤدي إلى موقف نحو تطوير الإمكانات البشرية الجوائز لا تختلف بتعاليم الدينية والثقافة
.
قَدْ أَنْشَأَ غرتورد موسكوويتز Gertrude Moskowitz (١٩٧٨) وَ ستيفيشك Stevick (۱۹۹۰) نَظَرِيةَ الإنْسَانِية فِي تَعْلِيْمِ اللغة الأَجْنَبِيَّة. رَأَتْ هذِهِ النَّظَرِيَّة عَلَى أَنَّ الطلاب لَيْسَ كَأَدَاةِ المَثِيْرَة وَالإِسْتِجَابَة فَحَسْبُ، بَلْ إِنَّمَا اهْتَمَّتْ بِكُلِّ الإِحْتِيَاجَةِ الأَسَاسِيَّةِ لهم، وَكذلك نَظَرَتْ عَمَلِيَّة التَّعْلِيْم مِن نَاحِيَة العاطفية، فضلا عن مساعدتهم على تطوير قدراتهم الذاتية.
علاوَة عَلى البَحْثِ، فإنَّ مؤشرات المَدْخَلِ الإنْسَانِيّ فِي تَعْلِيْمِ اللغة الأَجْنَبِيَة هي فِيْمَا يَلِي :
- التَّرْكِيْز عَلَى أَنْشِطَةِ الطلاب
- مَشْغول بالأنْشِطَة الإتّصَالِية
- تتمّ التَّعليم فِي مرح وبَهجة
- فهم الخصائص والقدرة المختلفة للتلاميذ
- الإهتمام بانفعال الطلاب واجتماعيتهم ودينيتهم
- الحثّ على الإبتكار اللغويّ
- التعفيف في اللحن
- التأكيد على عملية التعليم.
قَد بيّنت نَتِيْجة البحوث و الدراسة الإستقصائية عَن عَمَلية تعليم اللغة الأجنبية فِي المدارس أَنَّ العديد من الفرص لجعل تعليم اللغةِ إنسانيةً "مهملة". وَأَمَّا الفرص هي: أَوَّلاً، كان المدرِّسون لا يستفيدون التسهيلات المدرسية لاستخدامها وسائلاً للتعليم. ثانيًا، ما زالت تهيمن أنشطة التعليم عن طريق أسلوب المحاضرة وليست عملية التعلم متنوّعة ، بحيث لا يستعيب مختلف أساليب التعلم من الطلاب. ثالثًا، كانت تنمية المبادئ الدينية ليس جزءا ضروريا فِي تَعْلِيْمِ اللغة الأجنبية. رابعًا، ليس هناك فرصة للطلاب لأداء الأنشطة الإتّصالية ، سواء كان في الصف أوخارجه. عدم بذل الجهود في تكوين بيئة اللغوية المناسبة، التي يمكن أن تزيد الدافع للطلاب لممارسة لغة الهدف.
تَطْبِيْقُ المَدْخَلِ الإنْسَانِيّ فِي تَعْلِيْمِ اللغة العربيّة فِي المَدْرَسَةِ يُبْدَأُ مِن تَخْطِيْط لائِحَة التعلِيْم وَ تَحْقِيقه فِي طُرُقِ التَّعْلِيْم والتقييم. وَ يجب على عَمَلِيّة التعليم أن يرجع إلى المنهج المعيّن، و المنهج ٢۰۰۷ له خصائص المدخل الإنسانِيّ لأنّ لَيْس له غاية إلى انتهاء المَادة فحسب، بل يهتمّ إلى احتياج أساسي الطلاب. ولكن بالطبع هذا الجهد الإنساني في تعليم اللغة الأجنبية فِي المدرسة لا يكفي تحقيقَهَا فِي المنهج وحدها، بل يحتاج إلى الدعم و الاتساق الكامل لجميع المسؤوليّة التربوية، وخاصة عزم قويّ من المدرّسين ليبذلوا جهدهم على تحقيقه في عملية التعليم.
مع هذا المدخل الإنسانِيّ، فَيُمْكِنُ عَلَى مُدَرِّسِي اللّغة الأجنبيّة أَنْ يَصْنَعُوا عَمَلِيَّةَ التَعْلِيْمِ الَّتِي تُسَاعِدُ الطلاب إِلَى تشكيل شخصيتهم تَطوير قُدْرَتِهم. وبالإضافة إلى ذلك ، فإن المدخل الإنساني الذي يتم تطبيقه لتدريب الطلاب ليكونوا قادرين على التعلم بشكل مستقل ، وتدريبهم على التفكير النقدي والإبتكاري، وتوليد الثقة الكبيرة ليتكلموا بلغة الهدف
علاوَة عَلى البَحْثِ، فإنَّ مؤشرات المَدْخَلِ الإنْسَانِيّ فِي تَعْلِيْمِ اللغة الأَجْنَبِيَة هي فِيْمَا يَلِي :
- التَّرْكِيْز عَلَى أَنْشِطَةِ الطلاب
- مَشْغول بالأنْشِطَة الإتّصَالِية
- تتمّ التَّعليم فِي مرح وبَهجة
- فهم الخصائص والقدرة المختلفة للتلاميذ
- الإهتمام بانفعال الطلاب واجتماعيتهم ودينيتهم
- الحثّ على الإبتكار اللغويّ
- التعفيف في اللحن
- التأكيد على عملية التعليم.
قَد بيّنت نَتِيْجة البحوث و الدراسة الإستقصائية عَن عَمَلية تعليم اللغة الأجنبية فِي المدارس أَنَّ العديد من الفرص لجعل تعليم اللغةِ إنسانيةً "مهملة". وَأَمَّا الفرص هي: أَوَّلاً، كان المدرِّسون لا يستفيدون التسهيلات المدرسية لاستخدامها وسائلاً للتعليم. ثانيًا، ما زالت تهيمن أنشطة التعليم عن طريق أسلوب المحاضرة وليست عملية التعلم متنوّعة ، بحيث لا يستعيب مختلف أساليب التعلم من الطلاب. ثالثًا، كانت تنمية المبادئ الدينية ليس جزءا ضروريا فِي تَعْلِيْمِ اللغة الأجنبية. رابعًا، ليس هناك فرصة للطلاب لأداء الأنشطة الإتّصالية ، سواء كان في الصف أوخارجه. عدم بذل الجهود في تكوين بيئة اللغوية المناسبة، التي يمكن أن تزيد الدافع للطلاب لممارسة لغة الهدف.
تَطْبِيْقُ المَدْخَلِ الإنْسَانِيّ فِي تَعْلِيْمِ اللغة العربيّة فِي المَدْرَسَةِ يُبْدَأُ مِن تَخْطِيْط لائِحَة التعلِيْم وَ تَحْقِيقه فِي طُرُقِ التَّعْلِيْم والتقييم. وَ يجب على عَمَلِيّة التعليم أن يرجع إلى المنهج المعيّن، و المنهج ٢۰۰۷ له خصائص المدخل الإنسانِيّ لأنّ لَيْس له غاية إلى انتهاء المَادة فحسب، بل يهتمّ إلى احتياج أساسي الطلاب. ولكن بالطبع هذا الجهد الإنساني في تعليم اللغة الأجنبية فِي المدرسة لا يكفي تحقيقَهَا فِي المنهج وحدها، بل يحتاج إلى الدعم و الاتساق الكامل لجميع المسؤوليّة التربوية، وخاصة عزم قويّ من المدرّسين ليبذلوا جهدهم على تحقيقه في عملية التعليم.
مع هذا المدخل الإنسانِيّ، فَيُمْكِنُ عَلَى مُدَرِّسِي اللّغة الأجنبيّة أَنْ يَصْنَعُوا عَمَلِيَّةَ التَعْلِيْمِ الَّتِي تُسَاعِدُ الطلاب إِلَى تشكيل شخصيتهم تَطوير قُدْرَتِهم. وبالإضافة إلى ذلك ، فإن المدخل الإنساني الذي يتم تطبيقه لتدريب الطلاب ليكونوا قادرين على التعلم بشكل مستقل ، وتدريبهم على التفكير النقدي والإبتكاري، وتوليد الثقة الكبيرة ليتكلموا بلغة الهدف
________.
Langganan:
Komentar (Atom)




